Banyak kontroversi yang beredar tentang MSG. Ada yang mengatakan kalau MSG tersebut buruk bagi kesehatan, bisa menyebabkan asma, sakit kepala, bahkan kerusakan otak. Namun di sisi lain, banyak juga yang mengatakan bahwa MSG ini sebenarnya aman dikonsumsi. Dalam artikel kali ini, mari kita berkenalan dengan MSG dan menggali info tentang apa manfaat dan bahayanya.

Apa itu MSG?
MSG merupakan kependekan dari Monosodium Glutamate, yaitu zat aditif yang biasa digunakan untuk meningkatkan cita rasa makanan gurih, yang merupakan rasa dasar kelima manusia setelah asin, asam, pahit, dan manis. Hal ini populer digunakan di masakan Asia juga Barat. Asupan harian rata-rata yaitu sekitar 0,55 – 0,58 gram di Amerika Serikat dan Inggris, sedangkan 1,2 – 1,7 gram di Jepang dan Korea.

MSG berasal dari asam amino, atau asam glutamat, yang merupakan salah satu asam amino yang paling banyak ditemukan di alam. Glutamat sendiri adalah salah satu asam amino non-esensial, yang artinya tubuh kita pun bisa memproduksinya. Asam tersebut memiliki banyak fungsi bagi tubuh dan ditemukan di hampir semua makanan.

Secara fisik, MSG berbentuk seperti kristal putih yang terlihat mirip dengan garam atau gula. Sesuai dengan namanya monosodium glutamate, MSG adalah produk dari Natrium (Na) dan glutamate, yang dikenal sebagai garam natrium.

Kenapa orang berpikir MSG ini buruk?
Pada dasarnya glutamat itu berfungsi sebagai ‘neurotransmitter’ (proses sel-sel syaraf di otak untuk mengirimkan sinyal) di otak kita. Jadi MSG dinyatakan dapat menyebabkan kadar glutamat di otak berlebihan sehingga stimulasi sel-sel syaraf bisa berlebihan. Peningkatan kadar glutamate pada otak dapat menyebabkan kerusakan otak. Pada tahun 1969, terdapat penelitian bahwa menyuntikkan secara langsung dosis besar MSG ke tikus yang baru lahir terbukti menyebabkan kerusakan otak. Namun sampai sekarang belum ada penelitian yang dilakukan terhadap tubuh manusia.

Alergi terhadap MSG
Beberapa orang memang memiliki alergi terhadap MSG. Kondisi ini disebut sindrom restoran China atau MSG gejala kompleks. Orang-orang tersebut jika mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG bisa mengalami sakit kepala, otot-otot terasa sakit, mati rasa / kesemutan, dan badan terasa lemah. Penelitian ini menunjukkan bahwa sensitivitas MSG adalah hal yang nyata.

Beberapa peneliti berspekulasi bahwa dosis besar mengkonsumsi MSG bisa menaikkan kadar glutamat sehingga bisa menghambat aliran darah ke otak, yang menyebabkan pembengkakan syaraf. MSG juga diklaim bisa menyebabkan asma jika mengkonsumsinya dalam dosis besar dan terus menerus.

Apakah MSG bisa menimbulkan Diabetes dan Gangguan Metabolisme?
Di Cina, mengkonsumsi MSG dengan kadar 0,33 – 2,2 gram per hari telah dikaitkan bisa menaikkan berat badan. Namun di Vietnam, penggunaan MSG pada orang dewasa dengan dosis 2,2 gram per hari tidak berkaitan dengan obesitas. Penelitian lain diuji cobakan pada tikus, dengan menyuntikkan MSG dosis tinggi ke otak tikus dan menyebabkan tikus menjadi obesitas. Percobaan lainnya pada manusia menunjukkan bahwa MSG bisa meningkatkan tekanan darah, dan frekuensi sakit kepala serta mual meningkat. Namun penelitian ini menggunakan dosis yang terlalu tinggi. Banyak penelitian yang memang membuktikan MSG bisa menyebabkan obesitas namun hasilnya bisa dikatakan masih terlalu lemah dan tidak konsisten.

Jadi MSG itu teman atau musuh?
Tergantung kepada siapa kita bertanya. Kebanyakan ahli nutrisi akan memberikan jawaban di antara itu. Jika kita melihat kembali kepada beberapa bukti yang ada, mengkonsumsi MSG dalam dosis yang wajar tidak akan menjadi masalah. Bagaimanapun, dosis besar yang disebutkan di atas untuk disuntikkan dalam tubuh tikus atau manusia, yaitu 6 sampai 30 kali lipat dari penggunaan normal MSG sehari-hari dan disuntikkan satu kali dosis langsung. Tentu saja akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi tubuh.

Namun seperti artikel di atas sebutkan, jika kita merasa bahwa tubuh kita selalu bereaksi tidak wajar setiap kali mengkonsumsi MSG, maka sebaikanya dihindari. Cukup makan dengan rasa polos dan sederhana. Tetapi jika tubuh kita tidak bereaksi apapun, maka tidak masalah mengkonsumsi MSG dalam batas wajar.

Jika kita sudah memulai menerapkan hidup sehat, berolahraga, makan makanan sehat dan diet, maka penggunaan MSG akan turun dengan sendirinya.

Share Button