Anda perokok, dan sudah punya anak atau sering main bersama keponakan? Penelitian terbaru mengungkapkan kejutan (bukan kejutan baik, sayangnya) untuk membantu Anda mengevaluasi kebiasaan itu.

Saat Anda merokok, Anda tidak hanya merugikan kesehatan diri sendiri, tapi juga orang lain, terlebih anak-anak dalam masa pertumbuhan. Sebagai orangtua, pastinya ada kekhawatiran dan usaha untuk melindungi sang anak, misalnya dengan mencarikan sekolah terbaik agar terhindar dari pergaulan buruk, atau mengantar-jemput mereka agar luput dari orang jahat tak dikenal. Namun jangan sampai Anda mengabaikan efek asap rokok yang mungkin bisa lebih berbahaya.

Menurut Mayo Clinic, third-hand smoke adalah residu nikotin, sianida dan bahan kimia lain yang tertinggal dan menempel di berbagai permukaan seperti tembok, karpet, tirai dan perabot, setelah asap rokok menghilang. Residu ini lalu bereaksi dengan polutan ruangan (ozone, misalnya) untuk menghasilkan zat beracun penyebab kanker.

Anda mungkin tidak menyadari saat mereka bermain dan merangkak di karpet/lantai, menggigit barang, atau memasukkan tangan ke dalam mulut setelah tangan mereka menjelajah barang, furniture atau tembok yang terkontaminasi, mereka sudah terekpos zat racun third-hand smoke.

Balita dan anak-anak paling rentan terhadap zat beracun ini karena kebiasaan mereka. Anda mungkin tidak menyadari saat mereka bermain dan merangkak di karpet/lantai, menggigit barang, atau memasukkan tangan ke dalam mulut setelah tangan mereka menjelajah barang, furniture atau tembok yang terkontaminasi, mereka sudah terekpos zat racun third-hand smoke. Third-hand smoke juga bisa berdiam bertahun-tahun lamanya di dalam ruangan.

Belum selesai sampai di situ, senyawa ini juga bisa tertinggal di tubuh dan melekat di rambut, kuku dan pakaian mereka yang merokok atau terekpos asap rokok. Jadi, meski Anda merokok di luar rumah, sisa-sisa senyawa berbahaya yang terhirup oleh anak Anda bisa berasal dari tubuh Anda sendiri.

Jika bukan kanker dan penyakit jantung, anak-anak yang terkena asap rokok langsung dan third-hand smoke terancam mengalami peningkatan risiko menderita asma, bronkitis, pneumonia, batuk-batuk, meningitis, alergi, hingga melemahnya paru-paru yang mengundang berbagai penyakit lainnya.

Meski peraturan dilarang merokok telah cukup banyak diberlakukan di berbagai tempat umum, seperti sekolah dan mal, tetap dibutuhkan usaha yang lebih besar bagi para perokok aktif untuk tidak merokok di tempat-tempat lain. Di dalam rumah dan kendaraan pribadi merupakan tempat favorit para perokok. Hal yang mungkin tidak Anda sadari adalah, di dalam ruangan, asap rokok cenderung tidak terpencar dan menggantung rendah begitu saja di udara karena asap rokok lebih berat daripada udara. Hal ini membuat asap rokok bisa tetap berada di sana berjam-jam setelah Anda merokok.

Hal yang mungkin tidak Anda sadari adalah, di dalam ruangan, asap rokok cenderung tidak terpencar dan menggantung rendah begitu saja di udara karena asap rokok lebih berat daripada udara. Hal ini membuat asap rokok bisa tetap berada di sana berjam-jam setelah Anda merokok.

Anak-anak yang tumbuh bersama orangtua atau anggota keluarga yang merokok cenderung akan ikut merokok. Lebih lagi, Anda akan kesulitan untuk menjelaskan pada anak Anda mengapa mereka tidak mulai merokok juga. Jadi, bagaimana cara agar anak Anda terhindar dari bahaya rokok? Mari berhenti merokok. Terlebih, mari ajak seluruh anggota keluarga Anda untuk berhenti merokok agar rumah Anda bebas asap rokok. Dengan cara itu saja, risiko anak Anda menjadi perokok pasif dan menghirup third-hand smoke akan berkurang drastis dan kesehatan Anda sekeluarga bisa terlindungi. Selain itu, juga ajarkan anak-anak Anda agar selalu menjauh dari asap rokok.

Jika menurut Anda kesehatan diri Anda tidak penting, mungkin kesehatan anak Anda bisa menjadi alasan utama Anda berhenti merokok. Sekarang.

Share Button