Moms, pasti ada masa di mana anak sedang aktif-aktifnya bergerak, serba ingin tahu, dan ngotot pada kemauannya sendiri. Tapi jika mengetahui rahasianya, Anda dapat mencegah rasa frustasi dan kesal akibat perilaku anak yang tak terkendali. Jadi, apa rahasianya?

Buang jauh-jauh pikiran untuk memberikan anak hukuman, atau menyogok mereka dengan permen demi mengajarkan disiplin. Hal pertama yang perlu Anda ketahui adalah: anak dapat mendisiplinkan dirinya sendiri. Dengan memperjelas apa yang Anda harapkan dari mereka, anak akan berusaha bersikap sesuai yang Anda ajarkan karena anak cenderung ingin menyenangkan orangtuanya. Anda hanya perlu fokus pada hal-hal penting yang perlu diajarkan sejak dini sehingga anak dapat mengerti, menerima, dan menerapkannya.

Ajarkan anak tentang peraturan dan penghargaan agar mereka belajar mengatur diri dan menghormati batasan-batasan yang ada, antara lain dengan cara: memberikan alasan di balik permintaan Anda, memberikan pujian, ikut mematuhi peraturan Anda sendiri, dan menanamkan kesadaran diri pada anak.

1. PERATURAN DAN PENGHARGAAN
Jika anak dibiarkan terbiasa melakukan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan, pada akhirnya mereka akan sering merengek saat permintaannya tak dikabulkan. Jika anak tahu batasannya, mereka akan belajar mengatur diri dan menghormati batasan tersebut. Langkah-langkahnya:

a. Berikan alasan di balik permintaan Anda.
Misalnya, “Kamu perlu tidur jam 9 malam supaya tubuhmu kuat dan sehat untuk bermain besok!”
b. Berikan pujian.
Misalnya, “Wah, kamu membereskan mainanmu sendiri? Hebat!”
c. Ikut patuhi peraturan Anda sendiri.
Jika Anda meminta anak untuk selalu menaruh piring kotor di bak cuci piring, maka Anda juga perlu melakukan hal yang sama agar anak lebih semangat untuk mengikutinya.
d. Tanamkan kesadaran diri.
Saat anak merasa bersalah karena tidak mengikuti aturan Anda, jangan langsung berusaha meredakannya. Anak bisa belajar membedakan mana yang benar dan salah dari rasa bersalah tersebut.

2. KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH
Jika Anda mengajarkan anak untuk mencari solusi sendiri, mereka akan lebih siap dalam menghadapi suatu tantangan. Anda pun jadi terhindar dari rengekan akibat rasa frustasi atau tak berdaya yang mereka rasakan. Langkah-langkahnya:

a. Beri anak kesempatan untuk membuat keputusan.
Saat usia anak sudah cukup untuk mengerti, biarkan anak membuat pilihan-pilihan sederhana secara bertahap. Saat anak berperilaku buruk, tanyakan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk memperbaikinya daripada memarahi atau menghukumnya.
b. Biarkan anak terus berusaha.
Misalnya, biarkan anak mandiri saat berusaha mengikat tali sepatu atau membereskan mainannya sendiri. Meski dengan bantuan Anda akan jauh lebih cepat, anak perlu berlatih dan berhasil sendiri.
c. Tantang anak untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya.
Misalnya, saat anak bertanya tentang cara melakukan sesuatu, ajak anak mencari jawabannya sendiri sehingga mereka lebih percaya diri terhadap kemampuannya untuk memecahkan masalah.

Ajarkan anak tentang kesabaran agar mereka belajar bertoleransi terhadap rasa tak sabar dan tidak bertingkah saat berhadapan dengan suatu situasi, antara lain dengan cara: biarkan anak tenang menunggu, bantu memahami apa yang mereka rasakan, dan mengajak anak melakukan kegiatan yang melatih kesabarannya.

3. MELATIH KESABARAN
Siapa saja tentunya tak suka menunggu, apalagi anak yang kebutuhan ini-itunya terbiasa langsung dipenuhi. Oleh karena itu, sangat penting untuk melatih kesabaran pada anak agar mereka belajar bertoleransi terhadap rasa tak sabar dan tidak bertingkah saat berhadapan dengan suatu situasi. Langkah-langkahnya:

a. Biarkan anak menunggu.
Misalnya, tunggu beberapa saat sebelum menyediakan anak kudapan sorenya. Mengajarkan anak untuk tenang menunggu akan melatih kesabarannya.
b. Bantu memahami apa yang mereka rasakan.
Anak mungkin masih kesulitan dalam mengekspresikan frustasi saat harus menunggu, tapi Anda dapat berusaha memahami apa yang mereka rasakan dan menghargai kesabaran mereka. Dengan begitu, anak jadi cenderung berusaha lebih baik.
c. Ajak anak melakukan kegiatan yang melatih kesabaran.
Misalnya, menyelesaikan puzzle atau menanam bunga yang perlahan tumbuh dari benih hingga mekar sepenuhnya.

4. PERASAAN EMPATI
Seberapa sering anak mengambil mainan temannya, atau tak ingin berbagi dengan kakaknya? Hal ini bisa karena anak percaya bahwa dunia berpusat pada dirinya sendiri. Semakin anak mengerti bahwa semua orang mempunyai perasaan dan emosi, semakin kecil kemungkinan anak berperilaku yang dapat mengganggu atau menyakiti orang lain. Langkah-langkahnya:

a. Hargai kebaikan anak.
Menghargai anak saat mereka menunjukkan kebaikan pada orang lain merupakan kesempatan emas dalam mengembangkan empati. Misalnya, “Kamu baik sekali sudah menyelimuti bonekamu supaya hangat!”
b. Daripada mencoba menjelaskan, coba beri pertanyaan.
Dengan begitu, kesadaran anak lebih meningkat dan membuatnya lebih memikirkan perasaan orang lain. Misalnya, “Kalau mainanmu tak boleh dimainkan temanmu, nanti bagaimana perasaannya?”
c. Bantu anak mengartikan gerak tubuh dan ekspresi wajah.
Misalnya, “Tuh, lihat senyuman Papa saat kamu kasih kue. Papa pasti senang sekali sudah kamu bawakan kue.” Lama-kelamaan, anak akan lebih paham tentang reaksi dan tahu perilakunya dapat memengaruhi orang lain.

Hal yang perlu diingat saat mendisiplinkan anak adalah mereka masih anak-anak. Anda tak bisa mengharapkan anak umur 3 tahun berperilaku layaknya orang dewasa. Mendisiplinkan mereka tak bisa langsung terjadi dalam semalam, dan pasti ada tantangannya. Tapi lama-kelamaan, anak akan semakin mandiri dalam berperilaku baik tanpa Anda perlu meminta. Pantang menyerah, tetap konsisten dan curahkan kasih sayang dalam mendisiplinkan anak, ya Moms!

Share Button