Di satu sisi, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan telah menemukan kandungan klorin – bahan pemutih – pada beberapa merek pembalut wanita yang dikatakan dapat menyebabkan gatal-gatal hingga kanker. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan bahwa kadar klorin pada pembalut wanita masih aman digunakan. Yuk, telusuri lebih jauh tentang fakta-faktanya.

YLKI mengungkapkan bahaya klorin karena menghasilkan dioksin – bahan beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Tapi menurut Kemenkes, dioksin yang dihasilkan oleh klorin harus melalui proses penguapan dengan suhu di atas 400 derajat Celcius.

Hasil penelitian dari YLKI menemukan kandungan klorin dengan kadar yang berbeda-beda pada 9 merek pembalut dan 7 merek pantyliner. YLKI menyatakan bahwa bahaya klorin merujuk pada rekomendasi Food and Drug Administration (FDA) untuk tidak menggunakan klorin sebagai bahan pembalut. Klorin menghasilkan dioksin – bahan beracun – yang dapat menyebabkan gangguan pada sel hingga hormon tubuh. Menurut World Health Organization (WHO), dioksin sangat beracun dan dapat menyebabkan kanker.

Pihak YLKI juga menyinggung produk pembalut yang mengandung klorin karena lebih dari setengahnya tidak mencantumkan komposisi dan tanggal kadaluarsa pada kemasan. Hal tersebut dianggap melanggar UU Perlindungan Konsumen yang seharusnya memberikan hak-hak kepada konsumen antara lain berupa informasi dan keamanan produk.

Pernyataan tersebut direspon oleh pihak Kemenkes karena pembalut wanita yang beredar di Indonesia sudah melewati proses uji lab dan memperoleh izin edar sehingga aman digunakan. Dioksin yang dihasilkan oleh klorin harus melalui proses penguapan dengan suhu di atas 400 derajat Celcius, sehingga kemungkinan munculnya dioksin saat memakai pembalut sangat diragukan. Pihak Kemenkes juga mengatakan bahwa klorin memang bisa bersifat racun, namun yang perlu dikhawatirkan adalah jika dimakan. Penelitian dari Environmental Protection Agency mengindikasikan bahwa permasalahan terhadap dioksin berasal dari makanan, bukan dari pembalut wanita.

Lalu, bagaimana dengan kita yang perlu memakai pembalut setiap bulannya? Apakah harus berhenti memakai produk pembalut?

Hal yang dapat Anda lakukan dalam situasi ini adalah mengetahui kondisi kulit dan memerhatikan pembalut yang Anda pakai. Misalnya, apakah Anda memiliki kondisi kulit tertentu seperti radang atau alergi? Apa penyebabnya? Jika sudah diketahui penyebabnya – misalnya alergi terhadap klorin, maka segera cari cara untuk menanganinya.

Untuk mengetahui apakah pembalut Anda mengandung pemutih, ambil bagian kapas yang ada di dalam pembalut dan rendam ke dalam gelas bening berisi air. Jika setelah diaduk dan didiamkan airnya berubah menjadi putih, atau kapas hancur, maka pembalut tersebut bisa jadi mengandung pemutih.

Jika Anda mengalami iritasi atau gatal-gatal saat memakai pembalut tertentu, coba lebih cermat memilih produk atau cari alternatif lain. Misalnya, menggunakan pembalut kain yang bisa dicuci dan pakai ulang. Hal tersebut merupakan cara yang baik untuk menghindari efek buruk zat berbahaya dalam produk pembalut.

Share Button