Menurut observasi para psikolog, orang usia 20 tahunan yang merasa depresi jumlahnya sangat tinggi – dan mereka tak tahu mengapa. Padahal, mereka mengklaim bahwa masa kecil mereka bahagia. Kok bisa?

Moms, cara kita membesarkan anak memberikan pengaruh dalam pembangunan karakternya lho. Tapi, kadang secara sadar maupun tidak, kita mungkin mengaplikasikan cara yang keliru. Salah satu hal yang dikemukakan oleh psikolog adalah orang tua masa kini terlalu cepat campur tangan membantu. Kita tak ingin anak kita sedih atau mengalami masa sulit, akhirnya kita membuang hambatan-hambatan yang ada di jalan mereka – yang seharusnya bisa memberi mereka pelajaran dan kekuatan – demi membuat hidup mereka mudah.

Kita mengutamakan kenyamanan jangka pendek dibanding kesejahteraan jangka panjang anak kita. Akibatnya, mereka jadi rapuh ketika sesuatu tak sesuai harapan mereka. Itulah salah satu kekeliruan yang mungkin para orangtua alami. Nah, apa lagi contoh kesalahan dalam membangun karakter anak? Ketahui di sini yuk, Moms.

1. Terlalu memuja anak
Tak jarang, anak dijadikan pusat dari kehidupan orangtuanya. Pasti dong kita rela memberikan dan melakukan segala sesuatu untuk mereka, karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita. Namun, kita perlu mengetahui batasan antara cinta dan pemujaan, sehingga anak kita bisa belajar tentang kasih sayang dan kerendahan hati, bukan keegoisan.

2. Menganggap anak Anda selalu sempurna
Apakah Anda pernah tidak mau mendengar hal-hal negatif yang berusaha dikemukakan oleh guru atau orang lain tentang anak Anda? Ya, mungkin kita akan sedih atau sakit hati ketika mendengarnya, tapi jika memang hal tersebut disampaikan karena kepedulian atau kekhawatiran, maka kita perlu mendengarnya dengan hati dan pikiran yang terbuka. Kalau masalah tersebut terus dimiliki oleh anak dan tak segera dihadapi, efeknya bisa terbawa hingga mereka beranjak dewasa, Moms.

3. Bersikap kompetitif secara ekstrim
Sebagai orangtua, kita tentu ingin anak kita berprestasi. Tapi, jangan membandingkan anak kita dengan anak lain dan mengharapkan segala sesuatunya harus dimenangkan oleh anak kita – dengan segala cara. Mereka perlu mengerti tentang kerja keras dan sportivitas. Mereka perlu merangkul kemenangan, juga kekalahan. Itulah pelajaran yang akan membantu membangun karakter mereka.

4. Membesarkan anak berdasarkan apa yang kita inginkan
Apakah Anda membesarkan anak yang Anda inginkan, atau yang Anda miliki? Mungkin kita menginginkan anak perempuan, menginginkan si kecil nantinya berprofesi sama seperti kita sehingga kita dapat memberikan pengalaman hidup kita pada mereka. Namun, anak kita bukanlah diri kita. Mereka memiliki talenta dan ambisinya sendiri yang perlu digali. Memaksakan keinginan atau impian pada mereka hanya akan menghambat perkembangan diri mereka yang sesungguhnya.

5. Meremehkan perkembangan karakter anak
Membesarkan anak bukan tentang seberapa banyak piala yang mereka berhasil menangkan, atau seberapa tinggi nilai yang tertulis di rapor. Satu hal yang sangat penting diperhatikan adalah karakter, yang akan menentukan bagaimana mereka berpikir, bersikap, dan bertindak. Ini adalah inti diri anak yang akan menjadi landasan untuk hidup lebih baik, Moms. Karakterlah yang menentukan bagaimana anak membawa diri mereka hingga beranjak dewasa.

DON’TS
• Menggunakan ancaman – yang membuat mereka terbiasa merasa takut.
• Meremehkan anak – opini Anda sebagai orangtua sangatlah berpengaruh.
• Mengejek anak – karena dapat merusak kepercayaan diri mereka.
• Membanding-bandingkan – yang dapat membuat anak berpikir bahwa mereka tak akan pernah lebih baik dibanding orang lain.

DO
Menggunakan cinta kasih, pengertian, dan kesabaran. Dengan begitu, si kecil dapat membangun karakternya berdasarkan kualitas-kualitas tersebut.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.