Hari gini pasti sering banget denger kata “start-up”, kan? Menurut Wiki, “start-up” adalah bisnis baru yang didesain untuk mencari model bisnis yang dapat dieskalasi dan diulang. Inovasi dalam produk, proses ataupun servis biasanya adalah hal integral dalam pengembangan start-up.

Kalau Anda pernah punya ide yang muncul tiba-tiba, entah berdasarkan pengalaman (atau penderitaan) pribadi, ataupun hasil bengong sore hari, yuk dicari tahu apakah berpotensi menjadi bisnis yang berhasil (meskipun ukuran suksesnya belum tentu bisa langsung dikonversi jadi uang).

Kunci untuk mengetahui ide Anda bisa jadi bisnis adalah: ide Anda bisa memecahkan suatu masalah, Anda punya tekad kuat untuk menjalankannya dalam jangka panjang, orang-orang bersemangat untuk mencoba produk Anda, idenya cukup sederhana, dan waktu pemasarannya tepat.

1. Apakah ide Anda memecahkan suatu masalah?
Coba deh perhatikan, ide lebih sering muncul saat kita sedang mengalami suatu ketidaknyamanan atau masalah, membuat kita ingin mencari sesuatu yang lebih nyaman, efisien, atau terjangkau. Mungkin awalnya cuma Anda pengguna produknya, karena ide tersebut adalah solusi dari masalah pribadi. Jangan khawatir, bisa jadi masalah Anda juga dialami orang lain.

Simak cerita Drew Houston, penemu aplikasi Dropbox. Saat itu, ia berencana untuk kerja menggunakan laptopnya di perjalanan, tapi ternyata ia lupa membawa USB berisi data-datanya. Muncullah ide untuk menciptakan teknologi yang bisa menyimpan file-filenya di internet dan dapat diakses dari perangkat apa pun. Memang butuh penyesuaian atau utak-atik untuk menemukan bentuk komersilnya, tapi kalau akar permasalahan dan ide solusinya sudah jelas, Anda punya peluang untuk membuat hidup banyak orang lebih mudah.

2. Apakah Anda mau menjalankannya dalam jangka panjang?
Seberapa pun bagusnya ide, akan sia-sia saja kalau tak punya tekad kuat untuk menyediakan waktu dan energi untuk mewujudkannya. Saat bisnis berkembang lambat, berbagai kendala muncul, atau banyak yang tak mendukung, sangat mungkin menyerah di tengah jalan karena kehilangan semangat untuk melanjutkan. Tapi, kalau punya kecintaan dan passion yang tulus untuk ide Anda, pasti tak sulit deh untuk terus menjalankannya. Coba bagikan ide Anda ke orang-orang terdekat, lihat reaksi atau hasilnya, lalu renungkan selama beberapa hari. Kalau ide tersebut masih terus membakar semangat Anda, jalankan dan jangan menyerah!

3. Apakah orang-orang bersemangat mencoba produk Anda?
Semangat yang Anda punyai untuk solusi baru tersebut harus juga dipunyai orang lain yang mencobanya. Tes prototype produk ke teman-teman, keluarga, dan calon pelanggan untuk tahu seberapa luas pasar yang bisa dijangkau dan seberapa besar skala perkembangan produk Anda. Banyaknya pengguna yang menyukai produknya adalah tanda yang baik bahwa ide itu berpotensi. Proses ini penting untuk mencari nilai jual yang bisa ditonjolkan pada orang-orang yang nantinya akan mendukung dan membeli produk Anda.

4. Apakah ide Anda cukup sederhana?
Namanya juga ide, kadang bisa muncul seabrek dalam satu waktu. Tapi, kuncinya justru ada pada kesederhanaan untuk bisa dimengerti dan dinikmati. Menambah berbagai fitur atau fungsi –yang belum tentu semua maksimal dan mau digunakan oleh konsumen– pada produk inti yang sudah matang malah bisa memperumit penggunaan. Bahkan, kalau saat tes produk ternyata mayoritas pengguna hanya fokus pada beberapa fitur tertentu, buang saja fitur lain yang jarang terpakai.

Intinya adalah, buat tetap sederhana, luncurkan prototype, ambil feedback, dan sesuaikan. Jangan kaget kalau ide akhir Anda jungkir balik dari ide awal, itulah salah satu proses suksesnya suatu bisnis. Nokia yang sempat menjadi merek handphone sejuta umat awalnya bukan perusahaan komunikasi lho, melainkan perusahaan kertas!

5. Apakah waktunya tepat?
Sepuluh tahun yang lalu, tongsis mungkin dianggap sebagai ide yang aneh. Tapi saat muncul sekarang-sekarang ini, kepopulerannya merajalela. Jadi, coba deh tanya pada diri sendiri, apakah pasar siap menerima produk Anda sekarang? Dunia senantiasa berubah, dan ide yang mungkin pertama kali tak sukses, bisa sukses sekian tahun kemudian karena perubahan tersebut. Iya sih, kita tak bisa mengendalikan kapan munculnya suatu ide – yang mungkin tiba sebelum waktunya, tapi Anda bisa menganalisis tren dan perubahan, hingga muncul sinyal bahwa ide Anda perlu direalisasikan. Sekarang juga.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.