Hasil cek-up Anda sama seperti rapor jaman sekolah dulu. Tapi bukan nilai Fisika atau Matematika yang perlu dikuatirkan, tapi apakah hasil cek darah Anda merah di rapor kesehatan ini.

Konsekuensinya, Anda bisa mengalami penyakit fatal seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga kanker karena sindrom metabolik.

Coba cek, apakah Anda menderita sindrom metabolik? Anda bisa dibilang menderita sindrom metabolik kalau dua atau lebih dari nilai penting indikasi di bawah ini merah:
1. Lingkar pinggang melebihi 90 cm untuk pria atau 80 cm untuk wanita.
2. Kadar gula darah melebihi 110 mg/dL.
3. Tekanan darah melebihi 130/85 mmHg.
4. Tingkat trigliserida melebihi 150 mg/dL.
5. Tingkat HDL atau kolesterol “baik” kurang dari 40 mg/dL untuk pria atau 50 mg/dL untuk wanita.

Sebenarnya apa sih sindrom metabolik? Sindrom metabolik merupakan istilah untuk sekelompok faktor risiko, entah itu sifat, kondisi, atau kebiasaan yang meningkatkan kemungkinan munculnya penyakit. Beberapa penyakit yang paling sering dikaitkan dengan sindrom metabolik adalah penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga kanker.

Sindrom metabolik sering disebut sebagai penyakit gaya hidup karena utamanya disebabkan oleh obesitas dan kurangnya aktivitas fisik. Makin banyak gejala sindrom metabolik yang Anda alami, makin tinggi risiko munculnya penyakit-penyakit fatal.

“Penyakit jantung” di sini mengacu pada penyakit jantung koroner, di mana plak menumpuk dalam arteri jantung. Akibatnya, arteri bisa jadi kaku dan sempit, membatasi aliran darah yang menuju ke otot jantung. Masalah ini bisa membuat Anda mengalami nyeri dada, serangan atau kerusakan jantung, hingga kematian.

Risiko penyakit-penyakit fatal ini meningkat seiring dengan jumlah faktor risiko sindrom metabolik yang Anda miliki. Memang faktor keturunan atau usia bisa berpengaruh, tapi sindrom metabolik makin umum dialami karena kaitan eratnya dengan kelebihan berat badan dan obesitas, juga kurangnya aktivitas fisik. Psstt.. sindrom metabolik bahkan bisa menggantikan rokok sebagai penyebab utama penyakit jantung!

Resistansi terhadap insulin akibat pola makan yang tinggi lemak dan karbohidrat, serta obesitas dan timbunan lemak di perut juga bisa meningkatkan risiko sindrom metabolik. Resistansi insulin ini merupakan kondisi di mana tubuh tak dapat menggunakan hormon insulin sebagaimana mestinya. Padahal, insulin membantu memindahkan gula dalam darah ke sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai energi.

Mungkinkah mencegah atau menunda sindrom metabolik? Pastinya dengan gaya hidup yang lebih sehat. Untuk sukses mengendalikan sindrom metabolik, kita perlu mengelola kesehatan sejak awal, usaha jangka panjang, dan kerja sama dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan.

medikalokaArtikel ini disponsori oleh Medikaloka dan telah diverifikasi oleh dr. Rezkha Amalia, General Practitioner di Medikaloka Healthcare.
Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.