Mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa berpikir positif bisa memberikan dampak negatif. Lebih lagi, keadaan yang justru dianggap buruk seperti pesimisme, kegagalan, atau ketidakpastian bisa menghasilkan sesuatu yang positif. Kok bisa?

Menurut peneliti, lebih baik menyadari pikiran negatif daripada menyangkalnya. Biarkan perasaan itu muncul dan coba untuk menerimanya, daripada mencurahkan energi untuk mencoba meredamnya.

Dampak negatif dari berpikir positif
Bukan cuma spekulasi, hal tersebut telah didukung oleh banyak penelitian. Berpikir positif secara terus-menerus dan memaksakan semuanya untuk pasti berhasil membuat seseorang jadi tak mampu mengantisipasi ketidakberhasilan. Bahkan, saat seseorang terlalu banyak berpikir positif, hal tersebut bisa jadi adalah sebuah gejala dari gangguan mood atau mood disorder. Seseorang yang menderita mood disorder berpikir positif secara berlebihan hingga bisa membahayakan diri sendiri karena berpikir semuanya menyenangkan dan tak ada yang bisa menyakiti saya!

Bagi kebanyakan orang, efeknya mungkin tak sampai sejauh itu. Tapi, berpikir positif bisa saja “menghanyutkan” Anda hingga memengaruhi keputusan, perilaku, dan tindakan Anda. Misalnya, menyakinkan diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja saat keadaan di kantor sedang kacau, atau saat bertengkar dengan pasangan, dan akhirnya Anda malah tak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya.

Kekuatan positif dari berpikir negatif
Saat seharusnya merasa cemas, kita kadang malah menutupinya dengan berpikir positif dan wajah ceria karena tak ingin melihat masalah yang ada. Padahal, merasa sedikit cemas bisa memotivasi Anda untuk bertindak. Makin cepat Anda bertindak, makin kecil kemungkinan rasa cemas itu mengganggu Anda. Sama halnya dengan pesimisme. Ada yang disebut sebagai pesimisme pertahanan atau defensive pessimism, yang melibatkan ekspektasi rendah dan bersikap pesimis terhadap apa yang mungkin terjadi. Dalam penelitian, strategi ini membantu mengendalikan rasa cemas dengan bersiap untuk yang terburuk. Dengan begitu, mereka cenderung melakukan yang terbaik dan berusaha lebih keras untuk memastikan bahwa yang terburuk itu tak terjadi. Sebaliknya, mencoba untuk “membetulkan” pikiran negatif justru bisa memperparahnya.

Menurut peneliti, lebih baik menyadari pikiran negatif daripada menyangkalnya. Biarkan perasaan itu muncul dan coba untuk menerimanya, daripada mencurahkan energi untuk mencoba meredamnya. Berkonsentrasilah untuk mengenal dan berpegang teguh pada pendirian Anda saat pikiran negatif muncul.

Kesimpulannya
Berpikir negatif – dengan kadar tertentu – mungkin baik untuk Anda. Tapi bukan berarti Anda harus menjadi seorang pemurung yang selalu mengeluh lho. Pikiran Anda masih boleh dihiasi pelangi dan hal-hal cantik lainnya karena berpikir positif tentunya memiliki berbagai sisi baik yang telah terbukti manfaatnya. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan antara optimistis dan realistis.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.