Disfungsi ereksi, merupakan kata yang diam-diam menakutkan. Wanita sering bertanya bagaimana rasanya, sementara pria menganggapnya aib.

Disfungsi ereksi sendiri adalah kondisi dimana pria sulit mengalami ereksi. Hal ini tentu saja mempengaruhi keharmonisan seks juga pernikahan.Survey mengatakan bahwa disfungsi ereksi dialami sekitar satu dari 10 orang atau sekitar 10% apria di dunia.

Namun statistik ini masih diragukan jumlahnya, karena biasanya penderita malu untuk berbicara mengenai hal ini bahkan kepada dokter.

Tanpa diketahui banyak orang, 70% disfungsi ereksi merupakan gejala awal penyakit lain yang jauh lebih serius. Penyakit jantung merupakan salah satu contohnya dan penyakit lain yang berbuhungan dengan kerusakan jaringan dalam tubuh dan saraf. Oleh karena itu, sangat disarankan berkonsultasi dengan dokter secepatnya jika kita mengalaminya.

Faktor lain yang menyebabkan disfungsi ereksi adalah gangguan aliran darah. Hal ini kerap dialami oleh orang yang kelebihan berat badan serta merokok. Alkohol pun turut menyumbang penderita disfungsi ereksi.

Secara psikologis, disfungsi ereksi juga dipicu oleh stress, rasa bersalah, depresi dan kecemasan. Mungkin saja terjadinya berawal dari hal sepele seperti pertengkaran suami istri. Dari perang mulut mempengaruhi kenikmatan seksual pasangannya. Sayangnya sang istri berpikir hal tersebut disebabkan dirinya tidak menarik, akhirnya semakin berkepanjangan dan menjadi lingkaran setan.

Terakhir, kadang-kadang disfungsi ereksi berkaitan dengan diri-ketidakpercayaan atau kecemasan saat berhubungan seks. Disinilah peran istri sangat penting. Pasangan harus mampu meyakinkan bahwa disfungsi ereksi adalah hal yang bisa disembuhkan dan tidak perlu malu.

Disfungsi ereksi berbeda dengan ejakulasi dini. Ejakulasi dini lebih terkait dengan kinerja dalam hubungan seksual dimana pria mengalami orgasme terlalu cepat. Disfungsi ereksi merupakan kondisi kala pria tidak bisa ereksi atau mempertahankannya.

Share Button