Segelas bir dingin memang sering menjadi ‘sahabat’ para pria untuk melepas stres kerja, ditambah pula dengan nongkrong bersama teman-teman. Tapi ternyata alkohol memiliki banyak efek merugikan bagi kesehatan, termasuk sistem reproduksi pria.

Sebuah penelitian di Denmark, yang melibatkan 1.221 pria berusia 18-28 tahun, menemukan bahwa pria yang mengkonsumsi alkohol lebih dari 5 kali seminggu, kualitas spermanya jauh lebih rendah dibandingkan pria yang tidak mengkonsumsi alkohol sama sekali, atau hanya 1 kali seminggu.

Kualitas sperma ini diukur dari lebih sedikitnya jumlah sperma yang dihasilkan, serta bentuk dan ukurannya yang berbeda dari kondisi normal. Hal ini mempengaruhi tingkat kesuburan pada pria. Karenanya, wahai para pria, jika kalian masih mendambakan Andi Jr., Budi Jr., dan junior lainnya dari sperma Anda, berhentilah mengkonsumsi alkohol.

Bagaimana Alkohol Mempengaruhi Sistem Reproduksi Pria?
Efek alkohol pada sistem reproduksi cenderung diabaikan mengingat alkohol lebih populer dikenal sebagai perusak fungsi hati.

Ternyata, selain mempengaruhi fungsi hati, alkohol juga mengganggu sistem reproduksi pria.

Ternyata, selain mempengaruhi fungsi hati, alkohol juga mengganggu fungsi hipotalamus, kelenjar hipofisis anterior, dan testis, yang semuanya menjadi bagian dari sistem reproduksi pria. Bila dikonsumsi dalam jumlah besar, alkohol menghancurkan sel-sel sehat yang menghasilkan sperma, dan dengan demikian menyebabkan rendahnya tingkat dorongan seksual atau libido. Dalam istilah kesehatan, penyakit ini disebut sebagai ginekomastia.

Konsumsi alkohol yang berlebihan bisa juga menyebabkan disfungsi ereksi, karena alkohol menghambat kelancaran peredaran darah ke seluruh tubuh, termasuk aliran darah menuju penis. Pria pecandu alkohol umumnya gagal mempertahan ereksi lebih lama daripada pria yang bukan pecandu.

So, lebih memilih alkohol atau hubungan ‘panas’ di ranjang dengan pasangan? Segera gantikan alkohol dengan segelas smoothies buah. Fresh and healthy!

medikalokaArtikel ini disponsori oleh Medikaloka dan telah diverifikasi oleh dr. Fiona Amelia, MPH, Compliance Care Coordinator di Medikaloka Healthcare.
Share Button