Meningitis: Diam-Diam Menghanyutkan !

0 Comments - May 31, 2019

“All the most acute, most powerful, and most deadly diseases fall upon the brain.” - Hippocrates “All the most acute, most powerful, and most deadly diseases fall upon the brain.” - Hippocrates

Oleh dr.katon Adi Nugroho

Sudah dikenali sejak zaman dahulu sebagai infeksi otak, Meningitis menjadi salah satu penyakit paling mematikan dikarenakan cepatnya proses infeksi yang dapat berakibat fatal. Menurut WHO, sekitar 1,2 juta kasus meningitis bakteri terjadi tiap tahunnya di dunia dengan tingkat kematian mencapai 135.000 jiwa. Di Indonesia sendiri, menurut data Kementrian Kesehatan Indonesia, pada 2010 jumlah kasus meningitis terjadi pada laki-laki mencapai 12.010 pasien dan pada wanita sekitar 7.371 pasien, dan dilaporkan pasien yang meninggal dunia sebesar 1.025 pasien.

Apa itu Meningitis ?

Meningitis adalah peradangan pada membran yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang (Meningen). Penyakit ini secara umum disebabkan oleh infeksi fungal, virus, dan bakteri. Meningitis dapat menular secara airborne (pernafasan), kontak fisik seperti berciuman, berbagi rokok, sikat gigi atau alat makan. Beberapa orang bisa terinfeksi Meningitis tanpa menunjukkan gejala sehingga memudahkan penyakit ini menular dengan cepat ke orang lain. Saat bakteri masuk melalui hidung, mulut dan tenggorokan, bakteri akan masuk ke peredaran darah dan akan dengan cepat masuk ke berbagai jaringan ditubuh terutama membran yang membatasi antara otak dan pembuluh darah yang biasa disebut sawar darah otak (blood-brain barrier). Bakteri meningitis ini dapat melewati sawar darah otak dan menuju otak.

Dalam otak, bakteri menginfeksi meningen sehingga membuat proses peradangan yang menimbulkan gejala seperti sakit kepala hebat, demam tinggi, kaku pada tengkuk, kebingungan hingga perubahan kesadaran. Dari beberapa gejala tersebut The New England Journal of Medicine mendapatkan 3 gejala pasti yang akan muncul pada penderita Meningitis yang berguna untuk deteksi dini penyakit ini, diantaranya adalah Demam tinggi yang tiba-tiba, tengkuk yang kaku, dan perubahan kesadaran mendadak. Namun pada anak-anak gejala diatas sering kali luput dari pengawasan. Biasanya anak-anak menjadi rewel dan mengeluh sakit kepala. Ciri lain pada anak adalah munculnya ruam di kulit.

Pencegahan Meningitis, Adakah ?

Pada anak biasanya diberikan vaksin Haemophilus Influenzae tipe B (HiB) yang berguna untuk mencegah infeksi meningitis. Vaksin ini biasanya diberikan saat usia 2,4,6 bulan setelah itu dilanjutkan saat usia 15 atau 18 bulan. Setelah itu, terdapat juga vaksin meningitis yang khusus untuk memberikan imunitas terhadap bakteri meningitis yang biasa ditujukan untuk orang yang akan berpergian ke negara dengan angka kejadian Meningitis tinggi. Vaksin ini memberikan imunitas sampai 5 tahun kedepan.

Untuk pemberian vaksin meningitis untuk remaja belum menjadi sebuah kewajiban di Indonesia, namun ada beberapa faktor resiko yang harus kita ketahui apakah kita atau anak kita membutuhkan vaksin Meningitis, yaitu:

  1. Berusia 11-18 tahun atau lebih muda dengan resiko tinggi terinfeksi Meningitis (Tinggal atau berpergian ke negara yang angka kejadian Meningitis tinggi.)
  2. Mempunyai gangguan imunitas.
  3. Anak berumur 13-18 tahun yang belum divaksinasi sama sekali.

Selain dari anak-anak, kita perlu menaruh perhatian khusus bagi orang-orang yang sering berpergian ke luar negeri, termasuk bagi Jemaah haji. Vaksinasi meningitis sebaiknya dilakukan minimal 10 hari sebelum keberangkatan karena jka kurang dari itu sistem antibodi tidak bisa terbentuk sempurna.

Pastikan keluarga dan orang-orang terdekat anda telah melakukan vaksin meningitis, agar terhindar dari resiko penyakit meningitis yang diam-diam menghanyutkan ini.

Leave a Reply
Comments
No Comments