Vaksin COVID-19 di Indonesia: 3 Catatan Penting yang Perlu Kamu Tahu (1/3)

Vaksin COVID-194

Apa saja yang perlu kita ketahui, dengan hadirnya vaksin COVID-19.

Pemberian vaksin COVID-19 di Indonesia telah dilakukan pada Rabu, 13 Januari 2021 lalu. Dikutip dari Kompas.com, jumlah vaksin COVID-19, CoronaVac, yang telah tersedia di Indonesia adalah sebanyak 3 juta dosis, yang diproduksi oleh perusahaan farmasi asal China; Sinovac.

Selain vaksin CoronaVac dari Sinovac, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga telah menetapkan 6 vaksin lainnya yang akan didistribusikan, antara lain Bio Farma, Oxford-AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax, dan Pfizer-BioNTech.

With many news about vaccines spreading around, it’s very reasonable to feel confused. Belum lagi dengan banyaknya hoax dan rumor, tanpa sadar kita jadi ikut merasa paranoid. 

Worry not, berikut ini telah kami rangkum informasi yang perlu kamu ketahui tentang vaksin COVID-19 di Indonesia, yang berasal dari beberapa sumber dan jurnal. Check this out:

1. Kandungan vaksin

vaksin covid-19

Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca dari Oxford menggunakan adenovirus yang sudah dimodifikasi. Dilansir dari Very Well Health, adenovirus merupakan virus penyebab flu, yang juga mengandung materi genetik virus SARS-CoV-2. Sebagian materi genetik dari virus tersebut digunakan untuk memicu respon imun tubuh untuk membuat kekebalan dari SARS-CoV-2.

Vaksin Sinopharm

Laman BBC menyebutkan, vaksin Sinopharm yang diproduksi oleh China National Pharmaceutical Group Corporation menggunakan partikel virus corona yang dimatikan. Inactivated virus vaccine tersebut bekerja dengan cara mengekspos sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan risiko respon penyakit yang serius. 

Bagian dari kode genetik virus corona disuntikkan ke dalam tubuh, memicu tubuh untuk mulai membuat protein virus yang cukup untuk melatih sistem kekebalan untuk menyerang.

Vaksin Moderna

Vaksin Moderna menggunakan messenger RNA (mRNA) yang mengandung material genetik protein S (Spike) pada bagian ujung runcing virus corona untuk memicu kekebalan pada tubuh orang yang di vaksin. Vaksin mRNA akan mengajarkan sel tubuh untuk menciptakan bagian protein S yang tidak berbahaya dan memicu respon imun. Vaksin Moderna memerlukan dua kali penyuntikan, dengan rentang waktu selama 28 hari setelah vaksinasi pertama.

Vaksin Pfizer

Pada dasarnya, vaksin Pfizer yang diproduksi BioTech menggunakan mRNA, sama seperti vaksin Moderna sebelumnya. Dengan mRNA, tubuh tidak disuntik virus mati maupun dilemahkan, melainkan disuntik kode genetik dari virus tersebut. Hasilnya, tubuh akan memproduksi protein yang merangsang respons imun.

Vaksin Pfizer juga perlu disuntikkan sebanyak dua kali, dengan jeda selama 21 hari setelah vaksinasi pertama. 

Vaksin Sinovac

Vaksin Sinovac menggunakan metode virus yang telah dimatikan atau inactivated virus. Jenis vaksin ini memakai metode yang lebih tradisional dan diterapkan di berbagai jenis vaksin lainnya, seperti rabies. 

Dengan cara ini, tubuh bisa belajar mengenali virus penyebab COVID-19 tanpa harus mengalami risiko infeksi serius. Pemberian vaksin Sinovac perlu dilakukan sebanyak dua kali. 

Vaksin Novavax

Vaksin yang diproduksi oleh perusahaan asal Maryland, Amerika Serikat ini menggunakan protein S (spike) yang dibuat khusus untuk meniru protein spike dalam virus corona.  Protein ini akan memicu respon antibodi, yang menghalangi kemampuan virus corona di masa depan dan mencegah infeksi. 

Protein spike tersebut dikombinasikan dengan agen pembantu Matrix-M Novavax, yang berfungsi meningkatkan respon imun akibat antigen protein. 

Vaksin PT. BioFarma

Pemerintah Indonesia melalui PT Biofarma juga bekerja sama dengan sejumlah instansi, Sinovac Biotech Ltd China dan the Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), untuk mengembangkan vaksin untuk COVID-19 produksi dari dalam negeri.

Vaksin ini menggunakan virus yang dilemahkan atau inactivated virus, mirip seperti vaksin COVID-19 Sinopharm dan Sinovac.

2. Tingkat Kemanjuran

vaksin covid-19

Vaksin Oxford-AstraZeneca

Berdasarkan laporan uji coba yang dilakukan di Brazil, Afrika Selatan, dan UK, efektivitas vaksin AstraZeneca-Oxford mencapai 70,4% setelah distribusi 2 dosis dan 64,1% setelah distribusi 1 dosis vaksin.

Vaksin Sinopharm

Menurut The Guardian, UAE telah melakukan uji klinis vaksin Sinopharm kepada 31 ribu relawan dari 125 negara. Hasilnya, tingkat efikasi vaksin tersebut mencapai 86%.

Vaksin Moderna

Dilansir dari DW, analisis awal dari vaksin COVID-19 Moderna menunjukkan bahwa vaksin itu efektif hingga 94,5%. Analisis sementara uji klinis tahap 3 memberikan validasi klinis pertama bahwa vaksin Moderna dapat mencegah penyakit COVID-19, termasuk penyakit parah.

Vaksin Pfizer

Sementara itu, vaksin buatan perusahaan Jerman BioNTech dan perusahaan AS Pfizer telah terbukti 90% efektif dalam mencegah infeksi COVID-19, berdasarkan pada uji klinis tahap ketiga. 

Vaksin Sinovac

Mengutip dari CNN, BPOM baru saja merilis hasil evaluasi dari laporan uji klinis sementara atau interim tahap III. Hasilnya, vaksin COVID-19 Sinovac memiliki tingkat keampuhan sebesar 65,3%. Angka tersebut sudah sesuai dengan standar atau ambang batas efikasi yang ditetapkan oleh WHO, yakni minimal 50%. 

Vaksin Novavax

Vaksin COVID-19 Novavax saat ini tengah menjalani uji klinis tahap III, sehingga belum diketahui tingkat efikasinya. Namun pada uji klinis pertama dan kedua, kandidat vaksin Novavax terbukti dapat menghasilkan antibodi penawar terhadap sindrom pernapasan akut virus corona serta memicu respon imun yang kuat. 

3. Efek samping

vaksin covid-19

Vaksin AstraZeneca

According to DW, vaksin Oxford-AstraZeneca hanya menimbulkan reaksi vaksinasi ringan seperti nyeri di tempat suntikan, nyeri otot, sakit kepala dan kelelahan. Reaksi vaksin lebih jarang terjadi dan lebih ringan saat diberikan pada orang dewasa. 

Vaksin Moderna

Reaksi vaksinasi yang muncul tergolong dalam kategori ringan atau sedang, dan tidak berlangsung lama. Namun, hampir 10% dari mereka yang divaksinasi dengan mRNA-1273 mengalami kelelahan. 

Dengan vaksin Moderna, beberapa pasien juga mengalami reaksi alergi dan sangat sedikit orang yang mengalami kelumpuhan saraf wajah. Namun, masih belum jelas apakah reaksi ini benar-benar terkait dengan bahan inti vaksin. Ada kemungkinan bahwa efek samping tidak dipicu oleh mRNA, tetapi oleh nanopartikel lipid yang berfungsi sebagai pembawa mRNA dan kemudian dipecah oleh tubuh.

Vaksin Pfizer

Selama fase persetujuan, tidak ada efek samping yang serius terjadi dengan vaksin Pfizer. Reaksi vaksinasi yang khas seperti kelelahan dan sakit kepala lebih jarang terjadi pada pasien yang lebih tua. Namun, sejak vaksin mRNA ini digunakan, beberapa pasien mengalami reaksi alergi parah segera setelah penyuntikan.

Vaksin Sinovac

Dikutip dari The Jakarta Post, Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan, vaksin Sinovac tidak memiliki efek samping yang serius. Beberapa efek samping dengan derajat berat seperti sakit kepala, gangguan di kulit, serta diare memang dilaporkan terjadi setelah penyuntikkan vaksin. Namun, efek samping ini hanya terjadi sebanyak 0,1% hingga 1%.

Selain itu, kondisi akibat efek samping vaksin Sinovac ini bisa segera pulih kembali.

Vaksin Novavax

Tidak ada efek samping serius yang dilaporkan dalam uji coba awal vaksin Novavax, tetapi informasi yang lebih lengkap baru akan muncul setelah hasil uji coba tahap akhir dipublikasikan. Efek samping lainnya merupakan kategori ringan atau tidak ada.

Meski kita telah mendapat vaksin COVID-19, namun ada beberapa hal yang harus diingat. Tubuh kita memerlukan waktu untuk membangun perlindungan setelah vaksin. Vaksinasi COVID-19 yang memerlukan dua kali suntikan mungkin tak akan melindungi kita sampai satu hingga dua minggu setelah suntikan yang kedua.

Usai vaksinasi, bukan berarti kita bisa langsung aman. Penting bagi setiap orang untuk tetap menggunakan masker, tetap terapkan social distancing, hindari kerumunan, dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Karena yang penting dari vaksinasi covid-19 tidak hanya vaksinnya saja namun cakupan dari orang yang divaksin itu sendiri.

Adanya vaksin COVID-19 memang menjadi harapan bagi kita semua untuk ‘keluar’ dari pandemi dan menjalani hidup yang normal kembali. Namun tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan tetap diperlukan, sampai kita bisa benar-benar memastikan bahwa virus corona sudah berhasil dilumpuhkan.

Stay safe and stay healthy!

Catatan Editor: Artikel ini ditulis bersama dr. Katon Adi Nugroho.

Related Posts